23 Nov 2020

Pentingnya Pemeriksaan Tuba Falopi Saat Program Hamil

Tuba falopi merupakan bagian dari sistem reproduksi wanita yang menghubungkan antara indung telur (ovarium) dan rahim, berperan penting dalam kelancaran siklus menstruasi dan pembuahan.  Agar lebih mudah membayangkan, saluran tuba merupakan sebuah tabung yang dilapisi dengan struktur rambut halus yang bekerja dua arah, yaitu membantu sel telur berjalan menuju rahim dan membantu sel sperma naik dari rahim. 


Kondisi tuba falopi yang sehat dapat meningkatkan peluang kehamilan, dan berlaku sebaliknya bagi kondisi tuba yang mengalami penyumbatan. Sayangnya, seringkali tidak ditemukan gejala awal yang mengindikasikan penyumbatan saluran tuba selain program hamil yang kerap tidak membuahkan hasil. 


Saluran tuba yang mengalami penyumbatan dapat disebabkan oleh beberapa hal, diantaranya terdapat riwayat infeksi panggul, penyakit menular seksual, endometriosis (gangguan pada jaringan yang biasanya melapisi rahim dan tumbuh di luar rahim), serta adanya pembengkakan dan cairan di ujung saluran tuba.


Prosedur Pemeriksaan Tuba Falopi

Jika saat ini kamu sedang melakukan program hamil bersama pasangan, penting untuk melakukan pemeriksaan apakah ada sumbatan atau masalah lain seperti faktor ketidaksuburan. Karena diketahui bahwa kelainan fungsi tuba menjadi penyebab sekitar 20% wanita dengan infertilitas primer ataupun sekunder.

Pemeriksaan dengan menggunakan sinar rontgen untuk melihat kondisi rahim dan sekitarnya, termasuk tuba falopi dikenal dengan istilah Histerosalpingografi (HSG). Tes ini juga akan sekaligus mendeteksi adanya benda asing, miom, keberadaan polip, kelainan bawaan pada rongga rahim, sekaligus perlengketan rahim. 

Dalam prosedur ini akan dihasilkan gambar melalui foto rontgen yang menunjukkan masalah pada saluran tuba dengan durasi pemeriksaan sekitar 15 – 30 menit. Pemeriksaan dilakukan oleh ahli radiologi di rumah sakit. 

Biasanya, pemeriksaan HSG dilakukan pada 2 – 5 hari paska menstruasi, diawali dengan pemberian obat pereda nyeri satu jam sebelum prosedur dilakukan. Dokter juga akan meminta kamu untuk tidak memakai perhiasan atau benda logam lainnya yang dapat mengganggu kinerja alat pemindai. 




Berikut 4 langkah yang dilakukan saat pemeriksaan HSG:

1. Pasien berbaring di kursi pemeriksaan dengan membuka lutut lebar untuk dokter dapat membuka liang vagina menggunakan spekulum agar leher rahim dapat terlihat. 
2. Setelah itu, selang kecil atau kateter yang fleksibel dimasukkan ke dalam leher rahim untuk menjangkau rahim. Bahan pewarna/ cairan kontras yang digunakan selama pemeriksaan (untuk menghasilkan gambar yang lebih jelas pada foto rontgen) akan dimasukkan ke dalam selang tersebut sehingga dapat mengalir ke saluran telur lalu mengalir ke rongga perut, hingga diserap oleh tubuh. 
3. Selanjutnya dilakukan pengamatan apakah bahan/ cairan kontras dapat mengalir ke saluran telur? Karena jika saluran telur tersumbat, bahan pewarna di dalam selang tidak akan mengalir. Cairan kontras yang dialirkan ke dalam rahim dianggap dapat memengaruhi perbaikan endometrium sehingga menyebabkan embrio lebih mudah melekat; serta seringkali dihubungkan dengan peningkatan ovulasi untuk peluang kehamilan yang lebih tinggi. 
4. Pemeriksaan foto rontgen dari berbagai sudut, Jika sudah selesai, selang fleksibel akan dilepaskan menandai selesainya pemeriksaan. 

Paska pemeriksaan, umumnya kamu akan merasa nyeri seperti saat sedang menstruasi, pada beberapa wanita akan merasa pusing atau mual, dan mengalami pendarahan ringan selama beberapa hari. Hal ini wajar terjadi dan akan mereda dengan sendirinya. Kisaran biaya tes HSG di rumah sakit cukup bervariasi, namun umumnya berkisar antara Rp600.000 – 3.000.000. 


Back to Top